Jika benar ada tujuh hari dalam seminggu, kenapa aku hanya miliki satu?
Itupun tak penuh, hanya setara dengan satu kedipan mata. Rasanya baru saja aku menggenggam, semuanya keburu menghilang. Setelah itu, ada enam hari hampa yang harus dilewati. Terus begitu.
| sumber foto |
Dalam satu hari tersebut, aku hanya bisa menunggu tanpa mengambil inisiatif apapun. Hanya menunggu datangnya kesempatan satu kedipan mata itu. Memang sih, aku diberi pilihan. Pilihan untuk mengambil atau menolak kesempatan ini. Aku hampir selalu memilih untuk mengambil kesempatan, karena aku tak tahu kapan kesempatan yang hanya secuil ini datang lagi. Kadang aku memang bosan, kesempatan selalu datang dengan cara yang sama. Tak ada variasi apalagi inovasi, seolah kesempatan ini hanya datang sebagai pemenuhan janji, bukan pembahagiaan.
Berkali-kali aku ingin berontak, tapi tak pernah kulakukan. Sesuatu dalam hatiku berkata, “Kamu harus tahu diri!!” Namun aku tidak ingin terus menjadi boneka yang Cuma boleh menunggu. Aku ingin turut andil dalam pengambilan kesempatan. Aku ingin bahagia dengan pilihanku, bukan hanya mengangguk-angguk setuju sambil tersenyum manis. Aku tidak bisa terus memendam keinginanku ini. Aku tidak bahagia.
Jika keadaan tak juga membaik, mungkin nanti aku akan menggeliat untuk melepas rantai pengekang yang mengurung kebebasan. Maaf. Aku tidak bisa pura-pura bersikap manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar