Tidak terasa, sudah lebih dari delapan bulan saya seperti ini (meski sebenarnya saya lebih suka menganggapnya lima bulan, officially). Berkali-kali saya berpikir, apa salah saya? Kenapa saya diam di tempat? Selama lima tahun kebelakang, saya hidup dalam comfort zone. Semua hal terasa mudah. Saya hampir bisa melakukan dan mendapatkan apapun yang saya inginkan. Singkatnya, saya hampir selalu berhasil.
![]() |
| sumber foto |
Sekarang tiba-tiba saya merasa telah mengambil keputusan yang salah: saya terburu-buru lulus kuliah. Saya belum siap untuk menyikut ribuan orang di kiri-kanan saya, apalagi untuk mempertahankan diri dari sikutan tersebut. Ternyata persaingan disini begitu hebat, begitu menantang, seolah-olah setiap orang harus memilih untuk ‘dibunuh atau membunuh’.
Belum habis lelah saya ‘bertempur di medan perang’, saya dihadapkan pada situasi dimana orang-orang sekitar saya mendadak jadi ekstra perhatian. Mereka sering sekali bertanya, “Kenapa kamu belum bekerja?” atau “Masih gini juga? Aduh, kamu tuh nyari kerja ngga sih??”. Mungkin jika saya sedang dalam keadaan tenang, kalimat-kalimat diatas hanya menjadi gurauan belaka.
Celakanya, kalimat-kalimat itu dilontarkan saat saya sedang terpuruk karena kalah. Kadang-kadang, hati saya ngilu mendengar kalimat-kalimat itu, ingin sekali saya bilang ‘Emang kamu pikir cari kerja itu gampang?’ Atau ‘Kamu pikir selama ini saya diem aja ga berusaha? Salah! Entah sudah berapa puluh amplop saya layangkan selama bulan-bulan ini’ atau ‘Berisik! Kamu sendiri ngga lulus-lulus kuliah kan?’. Lama-kelamaan saya jadi rendah diri dihadapan mereka, padahal saya yakin sebenarnya mereka tidak lebih baik dari saya. :p
Butuh waktu yang lama bagi saya untuk menyadari bahwa ternyata kegiatan ‘sikut-menyikut’ itu tidak perlu terjadi kalau saya berpikir realistis, bukan idealis. Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa saya terlalu memaksakan kehendak saya untuk menang. Ibaratnya, saya memaksakan diri untuk masuk kedalam sebuah istana yang penuh sesak (dimana setiap orang yang ingin masuk kedalamnya harus bertarung mati-matian terlebih dahulu) hingga mata saya tertutup untuk menyadari bahwa ada istana-istana kecil yang bisa saya singgahi untuk sekedar beristirahat. Istana-istana ini tidak menuntut saya untuk bertarung, biasanya.
Dengan kata lain, entah kenapa berbulan-bulan lalu saya tidak mengambil peluang-peluang yang saya anggap kecil. Saya terlalu sibuk memikirkan hal besar. Saya terobsesi untuk menang. Saya terlalu sering berpikir, ‘Kenapa harus yang itu? Saya layak mendapatkan yang lebih kok’ atau ‘Gimana perasaan orang tua saya kalau anaknya yang sarjana cuma kerja di tempat seperti ini?’ atau ‘Gajinya kecil ah, ga sebanding sama capeknya’ atau ‘Saya ini anak sastra, kenapa saya harus ngajar?’.
Hari ini, saya merasa telah bersikap sombong dengan pikiran-pikiran saya itu. Seharusnya saya bersyukur dan menerima peluang-peluang yang ada. Bukannya sibuk mencari peluang besar tapi kemudian kalah dalam kegiatan ‘sikut-menyikut’. Saya menyesal tidak menerima tawaran mengajar di beberapa lembaga pelatihan bahasa, di sekolah-sekolah swasta yang cukup berkualitas, serta tawaran-tawaran pekerjaan lain yang saya anggap tidak sesuai dengan bidang studi dan keahlian saya.
Hari ini pula, saya akan mengubah pola pikir, dari idealis menjadi realistis. Saya harus seperti teman-teman saya yang, walaupun cita-citanya belum terlaksana, mengambil peluang-peluang kecil yang disodorkan pada mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar