Sore ini hujan terus mengalir begitu deras. Sesekali ditemani petir yang menyambar-nyambar. Sangat mengganggu.
Tanpa punya alasan yang jelas, akhir-akhir ini saya merasa sangat terganggu dengan hujan. Bagaikan sebatang bunga matahari, hujan membuat saya layu dan merunduk. Logika, kreatifitas, serta—terkadang—semangat saya layu didera hujan. Saya menjadi sangat melankolis dan tidak produktif disaat hujan. Saya benar-benar telah layu.
Hujan tidak pernah memberi pengaruh seburuk ini dalam pikiran saya. Saya berusaha keras untuk melawan perasaan ini. Maka saya seduh secangkir teh manis panas. Mencoba menikmati jatuhnya tetes demi tetes hujan melalui jendela, ditemani teh dengan asap yang masih mengepul. Saya malah makin layu.
Hmm, mungkin saya lebih baik menyatu dengan tetesan itu. Maka saya putuskan untuk membiarkan tetesan hujan itu jatuh diatas kepala, wajah, lengan, hingga akhirnya saya kuyup. Hasilnya, saya semakin layu. Apalagi ditambah angin yang menelusup ke seluruh liku tubuh saya tanpa ampun. Ok, ternyata itu bukan ide yang bagus.
![]() |
| sumber foto |
Maka saya Cuma termenung. Memandangi hujan dengan tubuh bergetar diselimuti angin. Apa yang membuat saya begini?
Saya pernah sangat mencintai hujan. Setiap tetesnya pernah sangat berarti buat saya. Jatuhnya tiap tetes hujan pernah begitu saya tunggu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar